-->

Pages

Friday, 13 October 2017

UKG UKG UKG ?!

Tulisan ini Panjang ... semoga telaten membacanya

[13/10 10:41] ‪+62 857-3201-0768‬: [10/10, 5:06 p.m.] Kencanawat: Tiga Orang Guru Wafat Saat UKG
Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Prof. Dr. K.H. HM Rasjidi mengatakan “Kita   lahir dari rahmat Allah, hidup mencari rahmat Allah dan kembali pada rahmat Allah.” Setiap yang hidup akan merasakan mati dan kematian adalah rahasiah Illahi. Setiap yang lahir, hidup dan mati pada hakekatnya sudah Allah tentukan segalanya. Risiko hidup  setiap hamba adalah kematian.

Kita sebagai orang beriman ikhlas dan ridho atas segala ketentuan yang Allah gariskan. Namun, disisi lain sebagai manusia biasa dengan segala kebodohannya   wajar dan sangat manusiawi bila kita mendiskusikan asbab dari sesuatu atau bahkan wafatnya seseorang.  Menarik ditelaah penulis meninggalnya tiga orang guru terkait UKG.

Di Jakarta seorang guru bernama  Amir Syamsu saat mengikuti UKG  di SMAN 26 Jakarta jatuh pingsan. Padahal sebelumnya Ia dalam kondisi sehat. Setelah sekian waktu pingsan maka  Amir Syamsu menghembuskan nafasnya (Kompas.Com). Di Kabupaten Tana Toraja  seorang guru berusia sekitar 55 tahun bahkan sebelum UKG jatuh pingsan dan selanjutnya wafat (Kompasina.Com).

Pekan ini anggota PGRI Kota Sukabumi sosok  guru yang sangat rajin dan memiliki idealisme luar biasa wafat saat  baru menyelesaikan 5 soal UKG.  Beliau bernama Ibu Eha, seorang guru  SD yang sangat dipercaya dan menjadi andalan kepala sekolah  di tempat Ia bekerja. Ia adalah sosok guru yang tidak pernah bolos dan tak pernah  males dalam bekerja. Terkadang Ia lebih mengutamakan kepentingan melayani anak didik dibanding kepentingan pribadi dan keluarganya.

Penulis berbicara dengan  Ibu Erni kepala sekolah dimana Ibu Eha bekerja.  Sangat disayangkan guru yang Ia andalkan harus menghembuskan nafas “karena” UKG. Asbab  UKG Ibu Eha pingsan saat baru menjawab beberapa soal UKG. Sungguh  UKG sepertinya telah membuat Ibu Eha sakit mendadak di depan layar monitor dan terkulai lemas, pingsan, koma di rumah sakit dan selanjutnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Ada yang harus kita yakini akan takdir Illahi yang menimpa seseorang termasuk wafatnya Ibu Eha. Namun, ada juga yang harus kita kritisi tentang kebijakan pemerintah yang telah melahirkan  para guru stress, tertekan karena harus mencapai kelulusan 80.  Lebih membuat para guru “menderita” adalah dipersepsi adanya hubungan nilai UKG dengan hak mendapatkan TPG. Ini  dirasakan sangat memperdaya  dan merendahkan nilai dedikasi sebagai seorang guru apalagi yang berada diperbatasan dan daerah terpencil.

Sangat tidak masuk akal UKG yang hanya mengukur intelektualitas hapalan dan teoritik menjadi penentu berhak dan tidaknya memperoleh TPG. Padahal sebagian besar guru nilai dedikasi, kompetensi di ruang kelas,  prestasi diorganisasi profesinya, prestasi di masyarakat, prestasi di sekolahnya dan beberapa talenta positif lainnya tak masuk nilai dalam UKG. Mengukur “kelayakan” guru dari hasil UKG adalah sebuah vonis tidak adil menurut para guru.

Alm. Ketua Umum PB PGRI Dr. Sulistiyo mengatakan "Pada  tahun 2012  di Semarang ada guru  yang disenangi murid dan juga masyarakat, tapi ketika uji kompetensi nilainya sangat rendah dan berimbas pada kepercayaan masyarakat pada guru itu," Ini sebuah realitas problematika efektifitas UKG. Benarkah guru yang lulus UKG adalah guru terbaik bagi peserta didiknya? Benarkah guru yang tak lulus UKG adalah guru yang bermasalah?

Dari beberapa ilustrasi di atas setidaknya kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa UKG dengan nilai kelulusan 80 adalah memberatkan. UKG bila dikaitkan dengan hak mendapatkan TPG adalah tidak rasional. UKG bagi guru-guru pedalaman adalah pemaksaan. UKG bagi guru-guru yang sebentar lagi pensiun dan tak akrab dengan dengan dunia IT adalah pelecehan. Terutama bila dikaitkan dengan "hak" TPG bagi guru yang sudah puluhan tahun mengabdi.

Sekian protes guru terhadap kehadiran UKG adalah hal yang  wajar mengingat nilai kelulusan meloncat menjadi 80. Idealnya UKG hanya menentukan atau mengukur pemetaan kompetensi “hapalan” guru. UKG realitasnya menyedot waktu KBM guru yang utama. UKG memakan biaya milyaran. UKG menimbulkan stress kolektif para guru. Efektifkah UKG? Semoga tulisan ini tidak termasuk ungkapan atau opini yang cengeng dan malas.

Fakta tiga orang guru meninggal terkait UKG langsung atau tidak adalah sebuah rekaman “medik” imbas regulasi pendidikan. Guru adalah komunitas yang harus diasah kompetensi, motivasi, metode dan ghiroh keguruannya. Bukan hanya diuji hapalannya berkaitan kompetensi profesionalnya. Padahal bagaimana seorang guru di ruang kelas terkait kompetensi pedagogik jauh lebih penting.

Menyaksikan dengan kepala dan mata sendiri saat audiensi di Kemdikbud Ketua Umum PB PGRI Dr Unifah Rosyidi begitu "keras dan tegas" memperjuangkan nasib guru berkaitan nilai UKG yang irasional. Ia menghendaki para guru Indonesia diberi layanan terbaik, kesejahteraan terbaik dan jauhkan dari hal-hal yang memberatkan karena akan berimbas pada kinerja dan layanan utama pada peserta didik sebagai generasi penerus kita.
[10/10, 5:06 p.m.] Kencanawat: *Puisi seorang siswa untuk gurunya*

Derita Guru Ku

Hari ini latihan soal,Nak
Soalnya lima buah
Pilihan Ganda
Jangan ribut
Ibu di perpustakaan
Menghitung Angka Kredit
Sudah delapan tahun
Ibu tidak naik pangkat
Itu ucapan Bu Husnul
guru matematika ku
Pada jam pertama

Hari ini kalian baca cerpen,Nak
Kalian ke perpustakaan
Jangan ribut
Jangan berulah
Bapak di ruang komputer
Ada tugas Daring
Yang bikin kepala pusing
Itu ucapan Pak Rahmat
Guru bahasa Indonesia ku
Pada jam ketiga

Hari ini buka buku kalian,Nak
kerjakan halaman empat puluh  Ibu di ruang guru
Besok harus UKG
Doakan agar Ibu lulus
Itu ucapan Bu Aijah
Guru IPS ku
Pada jam ke enam

Saat Istirahat,
Bu Sifa Guru Agama ku
Berpesan agar kami mengerjakan soal latihan di bab 3 setelah selesai jamaah dzuhur nanti,
Lalu Terburu-buru ke parkiran...
Katanya mau ngurus SIMPATIKA di kemenag sebelum admin keluar kota...

Guru Ku....
Kami butuh belajar
butuh cerita hidup Mu
Kisah nyata Mu
Perjuangan Mu
Agar kelak kami bisa melewatinya
Tanpa cela

Pak Menteri
Beri kenyamanan
Beri penghargaan
Untuk guru kami
Jangan buat mereka susah
Hentikan
angka kredit
Daring
UKG
Kami jamin
Guru kami guru profesional

Special for : my teacher's

( *Sharing Guru & Pesdik* )

Jika copas ini  ke semua Group  sampai ke Pembuat Kebijakan mudah2an mereka bisa membuat *Kebijakan yg bijaksana*🌼☘🌼☘🌼☘🌼

[13/10 15:26] Satria Pend Ind: 👍👍👍😥😓😭.

Benar sekali, setelah saya ikuti UKG, sungguh soal-soalnya pilihan ganda yg banyak pilihan jebakan yg hampir sama benar. Harus hafal betul pokok isi buku teori jika ingin lulus. Sementara materi yg diujikan tidak didapat terlebih dahulu referensinya.

Sungguh guru dinilai jelek krn pilihan ganda ini tidak masuk akal. Banyak soal yg saya sangat yakin benar dan seduai yg saya pelajari di kuliah PGSD dan S2 manahemen pendidikan, tapi dianggap salah. Ada banyak materi pendidikan yg dipelajari, tapi sepertinya ujian kemarin banyak soal dari satu buku saja yg sebagian sudah lupa karena saya biasanya pakai konsep yg lain yg baru yg lebih baik sehingga tidak hafal lagi isi buku tersebut.

Penilaian seperti ini tidak bisa melihat dan menghargai guru hebat yg mendidik dengan cara yg berbeda menghasilkan anak sukses seperti cerita di atas. 😓😥

Post a Comment

سرعة


Flag Counter