-->

Pages

Sunday, 6 September 2009

SHOP REBUNG BAMBU

SUHU PSPB R21 telah berjanji akan berceritera tentang Pengalaman Lucu dan Konyol yang terjadi 21 tahun yang silam. Ikuti terus ... sampai Anda terkekeh-kekeh ... ! Aneh, tetapi nyata. Nyata, namun aneh.



Pada hari Sabtu, 18 Juli 1988 sekitar jam 10.00 WIB, SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21 menginjakkan kaki yang pertama kalinya untuk memulai dedikasi menjadi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) sebagai Pengajar Ilmu Ekonomi di SMAN 1 Kraksaan yang mana saat itu masih bernama SMAN Kraksaan. Dengan penuh kepercayaan diri, datang sambil menenteng sebuah Tas Kayak Direktur sebuah Perusahaan Besar guna menemui Kepala sekolah pada saat itu yakni BAPAK KARYASA,BA dan sekaligus memperkenalkan diri kepada Dewan Guru yang ada pada hari itu di Ruang Guru. Karena serba pertama kali, ya otomatis apa yang terlihat dan dirasa serba asing, namun justeru bikin penasaran ingin tahu lebih lanjut. Sebenarnya, sebelum datang ke Kraksaan sempat dibayang-bayangi rasa kuatir akan kejahatan Orang-Orang Madura yang tinggal di wilayah Kraksaan dan sekitarnya, apalagi sebelum berangkatpun sempat ditakut-takuti oleh sebagian teman, konon kabarnya Orang Madura itu jahat-jahat. Antara percaya dan tidak, SUHU membaca BASMALAH untuk memantabkan diri masuk ke wilayah Kraksaan yang serba tak punya siapa-siapa dan tak menemukan sanak family terdekat, kecuali keponakan saya yakni BAPAK FADLOLI yang menjadi Guru Ekonomi di SMAN 1 Probolinggo yang kini sudah alamarhum. Meski ada rasa kuatir, namun keyakinan sangat tinggi, benarkah mereka jahat-jahat ? Selama tak menjahati orang, masak akan dijahati orang, kecuali di antara mereka yang berjiwa kotor ? Selama tak menyakiti orang, masak akan disakiti orang, kecuali mereka sudah lupa keberadaannya sebagai manusia normal ? Insyaa Allooh, bilamana berbuat kebajikan, tak akan menemui masalah yang berarti. Jujur saja, bicara tentang Orang Jahat, di mana-mana ada,  tak perduli Ras, Suku, Agama, dan Bangsa mana. 
Pada waktu itu dalam kurun waktu 1 minggu awal pelajaran ,yang datang sebagai Guru Baru ada 7 orang yakni  :
  1. Bapak Mohammad Naseh asal Kediri (Guru Ketrampilan Elektronika). Kini mengajar Matematika. Beliau dikenal sebagai Pendekar Egrang dan sekaligus Michael Jacksonnya alias Meggy Z-nya SMAn 1 Kraksaan.
  2. Ibu Anung Pariani asal Tulung Agung (Guru Sejarah). Kini mengajar Sejarah, Sosiologi, Antropologi. Beliau dikenal sebagai Pendekar Seni Suara Lagu-Lagu Jawa dan Bahasa Halus Jawa
  3. Bapak Heri Fransetyo asal Singosari, Malang (Guru Fisika). Kini ditambah mengajar Astronomi. Beliau dikenal sebagai Pendekar Panjat Gunung.
  4. Bapak Kuswanto asal Blitar (Guru Kimia). Beliau dikenal sebagai Pendekar (Game Karambol, Holahop dan Balapan Becak). Tukang Becak di Sidomukti bisa dikalahkannya.
  5. Bapak Nurhuda asal Blitar (Guru Bahasa Indonesia). Mutasi ke Blitar. Beliau mutasi pasca Tragedi Berdarah Bosnia Herzegovina.
  6. Bapak Edi Suyitno asal Kediri (Guru Matematika). Mutasi ke Kediri.

  7. SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21 asal Tuban (Guru Ekonomi). Kini mengajar Ekonomi dan Belajar Mengajar TIK.  Kata teman-teman sih, dikenal sebagai Pendekar (Pingpong, Bulu Tangkis, Karambol) dan yang lebih keren dan seram berjuluk PENDEKAR JENGGOT BERDARAH alias SUHU PSPB alias SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21. Khusus Karambol, SUHU punya musuh bebuyutan, di mana setiap main pasti yang paling seru dan palang gaduh di Ruang Guru yakni Bapak Baha'uddin (Guru Pendidikan Agama Islam sebelum Bapak H.Rochman Chosim dan Bapak Hasyiri datang) dan Bapak Chairus Saleh (Guru Bahasa Inggris) yang kini menjadi BOS di PLTU Paiton.



    Ngomong-ngomong ... katanya mau ceritera tentang SHOP REBUNG ? Mana dia ? Sabar ... sabar ... dan sabarlah ... biasa kan berputar-putar  dahulu biar tak keburu habis ceriteranya.

    Di hari itu, SUHU ditanya oleh Ibu Anung,"Sudah mendapatkan tempat kost-kostan ?". Jawab SUHU,"Belum". Bagaimana kalau kumpul dengan Saya dan Ibu Nur Yatimah (TU dan sudah mutasi ke Surabaya) di rumahnya Ibu Sungkono (adiknya Bapak H. Sinan alias H. U'uk Utara Pasar Semampir). Akhirnya SUHU, Bapak Naseh dan Bapak Edi mengikuti ajakan Ibu Anung dengan pertimbangan, sambil lalu mencari tempat kost yang lebih dekat  dengan sekolahan. 
    Pada hari Minggu, 19 Juli 1988, SUHU belum pergi ke mana-mana karena masih membawa bekal makanan yang cukup banyak khususnya Roti. Nah, pada hari Senin, 20 Juli 1988 itulah merupakan Hari Bersejarah bagi SUHU yakni Hari Pertama Kali Ikut Upacara Seninan dan Mengajar, serta sekaligus Hari Shop Rebung. Rebung kok dimasak shop ? Bagaimana rasanya ? Bukankah umumnya dimasak memakai santan kelapa ? Ingin tahu detailnya ...... ?????

    Singkat kata singkat ceritera, pagi itu sebelum berangkat naik becak ke SMAN 1 Kraksaan, SUHU kelaparan berat ingin makan nasi, maklumlah  perut SUHU bukan perut Orang Eropa. Maksudnya, meskipun persediaan roti dihabisi, tetap saja lapar karena rupanya Sang Perut sudah terbiasa dengan Santapan Aseli Bangsa Indonesia yakni Nasi dengan lauk-pauknya. Berhubung di barat tempat kost alias seberang jalan ada Warung Makan, ya diputuskan ingin sarapan di tempat itu yang sekaligus ingin merasakan Masakan Aseli Gaya Madura. Usai masuk ke warung tersebut, langsung bilang ke Penjualnya,"Buuuk ... sarapan Buuuk ... !!!   Beliau menjawab,"SHOBUNG NAK ... !".  Wow ... SUHU sangat kaget,"Aneh nih ... Rebung kok dimasak Shop ? Apa enak ? Di Tuban sana, Rebung itu dimasak pakai santan kelapa ... ? Gumam SUHU di dalam hati sambil terheran-heran memandangi Penjualnya, namun Penjualnya cuek saja tak melihat SUHU samasekali, hanya melirik kecil. Akhirnya bergumam juga dalam hati,"Tak apalah Buuuk ... etung-etung ingin tahu rasanya masakan SHOP REBUNG ! Barangkali  ini masakan Khas Orang Madura di Kraksaan khususnya dan Pulau Madura pada umumnya. Kayaknya enak dan lezat nich ... ! OK dech ... !  SUHU tetap berdiri di situ dengan maksud menunggu diladeni sambil melihat Orang yang minum Kopi dan Kue. Oleh karena merasa dicueki, SUHU mengulangi lagi,"Buuuk ... sarapan Buuuk ... !!! Beliau menjawab lagi yang serupa,"SHOBUNG NAK ... ! SUHU pun bergumam di dalam hati,"Tak Apalah Buuuk ... meskipun SHOP REBUNG, saya mau koook dan sekaligus ingin tahu rasanya". Orangnya tetap cuek sambil melirik kecil. Berhubung cukup lama tak diladeni dan jam masuk sekolahpun semakin dekat, SUHU bicara lagi dengan nada yang lebih mantab dan sekaligus pandang tajam orangnya alias setengah protes,"Mengapa saya sih ? Saya kan  mau meskipun SHOP REBUNG, namun kenapa kok tak diladeni ? Sementara Orang Lain baru datang yang beli Wedang Kopi dan Kue Basah kok langsung diladeni ? Di saat itu pula, beliau juga memandang SUHU dengan tajam sambil terheran-heran pula. Akhirnya baru sadar ... jangan-jangan SHOBUNG itu Bahasa Madura ... ? Aduuuh ... mati Aku alias Mati Kutu. Pada saat itu, SUHU langsung teringat teman SUHU dari Sumenep-Madura yakni Abu Amin Dasuki yang mengajar di SMAN 1 Ambunten. Ingat apa ? Teringat beliau pada saat Kuliah, seringkali belajar Bahasa Jawa ke SUHU, sedangkan SUHU diajari tidak mau karena merasa lucu kosa katanya yang banyak tekanannya. Yaa Allooh ... kalau tahu begini jadinya ... menyesal dech ... kenapa dulu diajari kok tidak mau ... rasain dech Elu ... !!!! Sambil memperhatikan Pembicaraan Orang-Orang di Warung itu, akhirnya SUHU menjadi tahu, ternyata Bahasanya Campuran : Bahasa Jawa,  Bahasa Madura dan Bahasa Indonesia. Hanya saja menjadi ragu karena beliau seorang Ibu Cukup Tua Usianya. Mau pakai Bahasa Indonesia, takut beliau tak mengerti. mau pakai Bahasa Jawa kasar, SUHU tak enak ... masak bicara sama Orang Yang Lebih Tua kok pakai Bahasa Jawa Kasaran. Mau pakai Bahasa Madura ... ? Ya ini masalah beratnya. Mau pamitan,?  Tak  tahu cara pamitnya. Mau langsung keluar, nanti dibilang Orang Kurang Ajar Tak Tahu Adat, Tak Tahu Sopan Santun. Akhirnya diputuskan memakai Bahasa Jawa Kasar dengan ucapan Logat Madura melalui Kursus Singkat Tak Langsung di Tempat Itu yakni "Buuuk ... Aku tak ngerti Madura Buuuk ... "!.  SUHU sangat kaget, ternyata beliau menjawab,"Naaak ... SHOBUNG itu maksudnya TELAS ... !  Subhaanallooh ... kalau tahu dari tadi, tentu sudah keluar dari Warung itu dari awal. Waaah ... rugi Aku menunggu, namun merasa tak rugi karena mendapat tamparan sangat telak bin fatal karena justeru Beliau Bisa Berbahasa Jawa Halus. Aduh naak ... sangking pundi ? (Aduh naak ... dari mana ?). Sangking Tuban Buuuk ... ! (Dari Tuban Buuuk ... !). Beliau menjawab lagi,"Pramilo, sampun ngungel SHOBUNG kok taksih dateng ngriku. mboten enggal-enggal medal sangking Warung ... !".  (Makanya, sudah bilang HABIS kok masih di situ, tak segera keluar dari warung ini ... !). Jawab SUHU lagi,"Buuuk ... dalem kinten ... SHOBUNG puniko singkatan sangking SHOP REBUNG. Maksudnipun REBUNG DIMASAK SHOP". (Buuuk ... saya kira ... SHOBUNG itu singkatan dari SHOP REBUNG. Maksudnya, REBUNG DIMASAK SHOP ... !  Tahu begitu, beliau langsung tertawa terpingkal-pingkal sambil diikuti Orang-Orang yang ada di warung itu. SUHU sungguh malu luar biasa karena orang yang diira tak Bisa Bahasa Jawa Halus, justeru menguasainya, sedangkan SUHU, satu kosa katapun dari Bahasa Madura tak ada yang tahu. Namun SUHU berjanji, setelah dari sini, akan belajar Bahasa Madura, apalagi SUHU pas membawa Kitab Ilmu Agama Islam yang Berbahasa Madura di mana sewaktu nyantri di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Gading Kasri Malang dahulu (saat Kuliah di IKIP Malang yang kini menjadi Universitas Negeri Malang). pernah membeli Kitab dengan Terjemahan Arab Madura. Apalagi di kostan SUHU waktu itu ada satu Pelajar SMA PGRI Kraksaan, namanaya Yasin (Kantornya sekarang menjadi markasnya SATPAM KITA) di pojok timur dekatnya sarana Panjat Besi (Iron Climbing). Pada hari itu juga, membeli Kitab Berbahasa Madura di Toko Kitab Kraksaan yakni TOKO SITUBONDO baratnya Pabrik Rokok Martina. Senyampang belum dijebak oleh Teman Kerja atau Orang Lain yang akan berniat mengerjai SUHU, SUHU bersiasat,"Pelajari Dahulu Perkataan-Perkataan Yang Dianggap Jorok". Sunguh luar biasa rasanya karena selama belajar, selalu perbanyak tertawa karena kosa katanya terasa sangat aneh di telinga. Berhubung Bahasa Kitab di Pesantren cukup paham terjemahannya, meskipun Kitabnya Berbahasa Madura, otomatis cepat paham, apalagi setiap hari Jum'at, selalu bertemu dengan Khotib yang lebih banyak Bahasa Maduranya daripada Bahasa Indonesia. Jadinya tambah semangat dan selalu pulang dari Masjid tertawa-tawa bersama Bapak Naseh, Bapak Edi, Ibu Anung dan Ibu Nur Yatimah. Setelah mendapat 1 bulan, SUHU bersama Bapak Naseh pindah kost di rumahnya Bapak SOEBONO karena dekat dengan sekolahan dan Bapak Kuswanto merasa kesepeian , sendirian tak punya teman. Kok cuma sebulan ? Memang direncanakan antara SUHU, Bapak Naseh dan Bapak Edi, nanti setelah sebulan di Semampir harus pindah Kost, syukur-syukur yang dekat dengan sekolahan. Yaa ... demikianlah Kisah SHOBUNGNYA SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21.







Post a Comment

سرعة


Flag Counter