-->

Pages

Tuesday, 30 June 2009

Risau

Kiriman : vavai@vavai.com

Posted: 23 Jun 2009 08:13 PM PDT


Salah satu kerisauan saya yang utama dan menghinggapi saya selama ini adalah kenyataan ada banyak anak-anak putus sekolah di kampung saya di Tambun-Bekasi. Mereka bukan putus sekolah dalam arti berhenti ditengah jalan (meski ada juga beberapa) melainkan mereka lulus SLTA namun tidak bisa melanjutkan kuliah dan juga tidak bisa bekerja.

Lowongan pekerjaan sangat terbatas. Kalaupun ada, banyak perusahaan yang memilih menggunakan yayasan. Mereka tidak punya pilihan. Jika mereka masuk melalui yayasan, mereka harus menyetorkan sekian juta rupiah dari gaji (prosesnya dicicil, misalnya Rp. 500 ribu tiap bulan) sedangkan kadang mereka hanya bekerja selama 3-6 bulan saja.

Saat ini saya memang tinggal agak jauh dari kampung tempat saya dilahirkan di Tambun sana. Saya tinggal di Bekasi Timur, dekat terminal Bekasi. Jarak tempat tinggal sekarang dengan kampung saya di Tambun memang hanya beda kecamatan namun tiap saya pulang menjenguk orang tua saya, rasa risau dihati saya tidak kunjung reda. Banyak dari mereka adalah tetangga saya dilingkungan rumah orang tua saya. Beberapa diantaranya malah sanak family saya, sedangkan sebagian besar lagi adalah adik kelas saya baik di SD maupun SMP.

Saya tahu pasti sikap dan tindak tanduk mereka sedari kecil. Saya tahu mereka adalah anak-anak yang relatif baik. Kalaupun ada kenakalan, semuanya kenakalan khas remaja dan bukan kriminal.

Masalahnya, tidak bisa kuliah dan tidak memiliki pekerjaan membuat mereka hanya memiliki sedikit kesempatan. Ada stigma bahwa orang Bekasi (asli ?) itu pemalas. Stigma yang mungkin dilekatkan karena ada beberapa sikap yang dilakukan oleh segelintir orang namun menjadi generalisasi.

Saya tidak pernah percaya pada generalisasi. Baik itu generalisasi yang dilekatkan pada orang Bekasi asli ataupun generalisasi yang dilekatkan pada orang lain, didaerah lain, pada suku lain.

Stigma orang Bekasi pemalas dan bodoh mungkin gejala umum yang bukan hanya terjadi di Bekasi. Didaerah lain mungkin ada kecenderungan yang sama, yang sering berujung pada konflik horizontal sosial-masyarakat.

Saya tidak ingin melawan stigma yang dibalas dengan stigma. Ada banyak stigma negatif tentang orang Bekasi, antara lain soal pemalas dan bodoh tadi, kemudian stigma tukang kawin (yang membuat isteri saya sempat maju mundur saat hendak menikah dengan saya :-D ), stigma soal jual tanah warisan, stigma soal ketidakmauan merantau, stigma soal ketidakmauan belajar dan stigma negatif lainnya.

Saya khawatir, stigma yang ada, tidak kuliah dan tidak bekerja jika tidak dikelola dengan hati-hati bisa menyeret mereka pada perilaku kriminal.

Jika sebagian besar orang langsung mengecam tindak tanduk ormas-ormas kedaerahan yang mengatasnamakan Bekasi atau Betawi, saya pribadi miris karena ada banyak diantara mereka yang ikut organisasi tersebut karena tidak punya pilihan untuk bisa mencari nafkah.

Saya sejak lama berpikir, apakah ada yang bisa saya lakukan untuk mengurangi stigma tersebut sekaligus membantu mereka-mereka yang mengalami kesulitan diatas. Saya juga tidak ingin membatasinya hanya untuk orang Bekasi karena saya pribadi cenderung untuk meniadakan sekat-sekat kedaerahan dan jargon “orang asli”

Pikir saya, mungkin ada yang bisa saya lakukan tanpa menunggu saya kaya raya dan membiayai seluruh misi saya. Berikut adalah beberapa pemikiran yang terlintas dibenak saya :

  1. Memberikan pelatihan. Pelatihan tidak hanya dalam bentuk aplikasi komputer yang menjadi basic kompetensi saya melainkan meliputi juga tata cara pembuatan surat lamaran kerja yang baik, tata cara menghadapi proses interview, tata cara menghadapi test kerja maupun test PNS. Banyak diantara anak-anak lulusan SLTA yang gagal bukan karena mereka tidak mampu melainkan kebanyakan dari mereka grogi, membuat lamaran kerja sekenanya dan memiliki keterampilan yang tidak cukup
  2. Memberi dukungan. Dukungan yang dimaksud bisa saja dalam bentuk support finansial terbatas, misalnya membantu menyediakan kertas, print out dan amplop untuk lamaran kerja, serta biaya untuk mengirimkan lamaran. Meski nilainya tidak seberapa, banyak diantara mereka yang bahkan tidak punya cukup uang untuk sekedar mengirimkan lamaran pekerjaan
  3. Memperluas Jaringan. Saya berharap memiliki jaringan yang lebih luas agar peluang-peluang yang bisa didapatkan semakin besar. Mungkin ada diantara mereka yang berminat bekerja dibidang pertanian atau menjadi operator warnet atau menjadi karyawan non pabrik lainnya.
  4. Proyek Berkelanjutan. Saya menyadari sepenuhnya bahwa suatu proyek yang diinisasi harus bisa menghidupi dirinya sendiri agar bisa berkelanjutan. Dalam benak saya, kegiatan ini merupakan kegiatan volunteer yang biaya awalnya ditanggung oleh para pendiri sesuai kemampuan namun secara bertahap mendapat kontribusi dari sisi yang lain. Tidak menutup kemungkinan para alumni proyek ini membantu teman-temannya baik dalam bentuk finansial (secara sukarela dengan besaran sesuai kemampuan) atau dalam bentuk lainnya

Dalam minggu ini mungkin saya akan bisa membuat gambaran yang lebih jelas mengenai bentuk kegiatan yang akan saya lakukan. Bagi rekan-rekan yang punya pengalaman untuk kegiatan sejenis atau rekan-rekan yang memiliki saran atau kritik silakan sampaikan melalui bagian komentar.


Catatan SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21 :

  1. Apa yang dirisaukan di atas sebenarnya terjadi di seluruh Wilayah Indonesia.
  2. Manusia hanya bisa berencana, berusaha, berjuang, berkorban, berdo'a dan bertawakkal, namun hasil akhir tetap Hak Prerogratif Allooh SWT. Yang penting JUST DO IT & NEVER TO STOP IN THE STRUGGLE !!!
  3. Bilamana di antara kita hidup secara wajar alias tidak serakah dan menghalalkan segala cara, sebenarnya tetap bisa mendapatkan Lowongan Kerja dan memperoleh Pendapatan Yang Layak.
  4. Bagi mereka yang malas, ya tentunya kesalahan ada di mereka sendiri, sebab yang rajin mencari Lapangan Kerja (Angkatan Kerja = Demand Force Labour) atau yang Sudah Bekerja (Employment) pun belum tentu memperoleh Hasil Yang Diinginkan Sebelumnya.
  5. Masalah Kesempatan Kerja (Employment) dan Unemployment sungguh merupakan Masalah Nasional bahkan Internasional, karena memerlukan kesadaran bersama, namun kenyataan menunjukkan DI ANTARA KITA LEBIH CENDERUNG MEMAKMURKAN DIRINYA SENDIRI, KELUARGA SENDIRI, TEMAN SENDIRI, ATAU KELOMPOK NYA SENDIRI.
  6. Intinya PSPB-lah !!! Pingin Sukses Perbanyak Berusaha, Pakai Strategi Paling Bagus, Pastikan Selalu Perbanyak Belajar, Pengalaman Sungguh Pelajaran Berharga, Pejuang Sejati Pasti Bersiasat, Pinginnya Supaya Perjuangannya Berhasil. Pejuang Sejati Pelihara Bodynya, Plus Selanjutnya Perbanyak Beribadah Penuh Sabar Perbanyak Bertawakkal. Pejuang Sejati Pantang Berhenti, Peduli Sosial Perbanyak Bersyukur, Pantang Sombong Pengantar Berkah, Perbanyak Sombong Pengundang Bencana.
  7. Kepada Pihak vavai@vavai.com Pastikan Saya Perbanyak Berterimakasih, Penyebabnya Satu,"Pedulikan Bangsanya" yakni Indonesia.
Post a Comment

سرعة


Flag Counter