-->

Pages

Sunday, 23 November 2008

SEJARAH P S P B II

DASAR FILOSOFIS P S P B

Jangan lupakan Kisah Pertama

Di antara Pembaca mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa diberi nama PADEPOKAN SINKANG PERJENGGOTAN BERDARAH (P S P B) ? Waow seram sekali ! Namanya seperti PERGURUAN SILAT saja, apa memang Perguruan Silat. Kalau dirinci satu per satu apa maksud dari kata-kata :
  • Padepokan ?
  • Sinkang ?
  • Perjenggotan ?
  • Berdarah ?
  • Namanya seperti pelajaran PSPB di masa tahu 84-an sampai 95-an, apa menjiplak ?
  • Mengapa dipanggil SUHU ?


 Ingin tahu apa tidak ? Ingin lanjut apa tidak kisah PSPB dari SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21 ?
Meskipun tak tahu, sepertinya sudah penasaran berat ingin dijelaskan. Tenang, tenang, tenang ! Jangan kuatir ! Singkat ceritera :
  1. Padepokan diambil dari Bahasa Jawa Kawi yang maksudnya suatu tempat tertentu untuk mencetak generasi yang terpelajar dan terdidik agar berguna bagi sesamanya di masa-masa yang akan datang yang berpedoman pada Agama yang dianut pada masa itu. Padepokan = Peguron (Bahasa Jawa) = Perguruan (Bahasa Indonesia) = Pay (Bahasa Cina) = Sekolah (Bahasa Indonesia=istilah sekarang) = Madrosah = = Madrasah (B ahasa 'Arab) = School (Bahasa Inggris) = (Bahasa Jerman). Padepokan di masa lalu tentunya tidaklah sama dengan Sekolah di masa sekarang karena kondisi situasinya berbeda, ya otomatis tantangan dan kebutuhannya berbeda serta parasarana sarananya juga berbeda. Padepokan di masa lalu khususnya di Zaman Kerajaan di Nusantara ini lebih banyak dipergunakan sebagai tempat untuk mencetak Para Pesilat/Para Pendekar Silat ke tataran yang tertinggi yang mampu disediakan oleh Pemilik Padepokan tersebut dan tergantung kemampuan dan garis taqdir yang dicapai oleh Para Anak Didik. Di saat itu Anak Didik disebut dengan nama CANTRIK. Kalau begitu, Padepokan Sinkang Perjenggotan Berdarah tempat mencetak Para Pesilat/Para Pendekar Silat ? SUHU menjawab,"100% bahkan lebih, TIDAK !!!". SUHU bukan Pendekar Silat, namun sebagai PENDEKAR ILMU EKONOMI TINGKAT SLTA dan Yang Sederajat, apalagi sekarang bukan zamannya, kecuali SUHU hidup di masa-masa lampau. Mengapa diberi nama Padepokan, apakah sudah kehabisan akal dan nama ? Jawabnya,"TIDAK ?". Alasannya ? Antara lain :

    • Sebagai bentuk ujud penghormatan dan penghargaan obyektif atas Karya Kemanusiaan Yang Luar Biasa. Padepokan (Lahir di Zaman Kerajaan Syiwa, Hindhu, Budha) merupakan hasil khazanah budaya Bangsa Indonesia tertinggi dan tertua. Setelah itu disusul Pesantren (Lahir di Zaman Wali Songo), baru kemudian disusul Sekolah (Lahir di Zaman Sekarang). Kalau tak ada peran dari Padepokan mau jadi apa Bangsa Indonesia. Padepokan merupakan EMBRIO TERTUA PENDIDIKAN DI INDONESIA. Ini aseli hasil renungan dan kesimpulan SUHU dan tak menjiplak ke siapapun. Kalau toh ada, SUHUpun tak tahu sumber rujukannya.
    • Sebagai bentuk pengabadian hasil karya terbesar Bangsa Indonesia yang sangat menjunjung tinggi Nilai-Nilai Kemanusiaan yang berlandaskan Agama Yang Dianut Pada Masa Itu.
    • Sebagai ungkapan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada Para Leluhur Kita yang telah menanamkan EMBRIO PENDIDIKAN sehingga terlahir Konsep Pendidikan Modern di Indonesia.


  2. Sinkang ? Sinkang disebut juga Lwee Kang (bahasa Cina) = Tenaga Dalam. Kalau begitu berarti SUHU PSPB mengajari ILMU SILAT TENAGA DALAM. Istilah SINKANG dipakai, bukan berarti mengajari ILMU SILAT TENAGA DALAM dan ILMU SILAT TENAGA LUAR JUGA TIDAK sebab SUHU BUKANLAH PESILAT, hanya saja SUHU mampu menangkap dan melaksanakan dalam kehidupan nyata sebagian dari DASAR FILOSOFIS ILMU SILAT. SUHU mengambil INTISARI SEMANGAT JUANGNYA DALAM MENEGAKKAN NILAI KEBENARAN DAN KEADILAN. Apa yang dimaksud SINKANG dalam Ilmu Silat berbeda konsep pemahaman yang saya buat yakni justeru SINKANG SUHU JAUH LEBIH TINGGI DERAJATNYA DARIPADA SINKANGNYA ILMU SILAT. Mengapa bisa lebih tinggi ? Ya bisa saja, sebab SINKANG di sini SUHU bawa ke pemahaman SUMBER ASAL SINKANG DALAM ILMU SILAT ITU SENDIRI. SINKANGnya SUHU berujud NIAT, HATI, KATA HATI, INSTINK, SEMANGAT JUANG, UCAPAN TERPUJI, PIKIRAN JERNIH, SIKAP TERPUJI DAN TINDAKAN TERPUJI yang berlandaskan pada Standar Aturan Agama dan Non Agama. Sinkang dalam Ilmu Silat hanyalah sebagian Hasil dari Hasil Olahan SINKANG yang SUHU maksudkan di atas. Singkat kata, SINKANG di sini merupakan hasil perpaduan antara Olah Fisik dan Olah Batin untuk berbagia kebutuhan dan tujuan dalam kehidupan ini sehingga menjadi orang sukses, sehat lahir batin dunia akhirat, selamat lahir batin dunia akhirat, bahagia lahir batin dunia akhirat, sesuai Petunjuk Jalan Lurus Kehidupan yang berlandaskan pada Standar Aturan Agama dan Non Agama. Orang sukses manapun dalam bidang apapun dan sekalipun yang mengambil jalan sesat, toh kesemuanya tetap memerlukan SENJATA SINKANG.


  3. Perjenggotan ? Namanya kok memakai jenggot, ada dan kenapa ? Jawabannya sederhana, baca lagi Kisah PSPB Pertama. Sekali lagi, PSPB yang SUHU buat pada dasarnya hanyalah sekedar iseng belaka. Sebelum memberi nama PSPB, SUHU biasa memproklamirkan diri dengan sebutan PENDEKAR JENGGOT BERDARAH dari PADEPOKAN JENGGOT BERDARAH yang merupakan satu-satunya Pendekar Yang Mampu Membunuh Pendekar Syair Berdarah dalam Sandiwara Tutur Tinular Arya Kamandhanu. Singkatnya, pada dasarnya hanyalah Bahasa Hiburan Semata terhadap Pelajar SMAN 1 Kraksaan pada 17 tahun yang lampau. Kalau boleh tahu, bagaimana kisahnya munculnya istilah Perjenggotan ? Oh begini kisahnya. Sejak kecil SUHU menyukai Kisah Silat/Kung Fu Tertulis dan Kisah Silat/Kung Fu Dalam Dunia Film. Cantriknya/Muridnya mempunyai Guru dan ternyata sudah cukup tua bahkan Tua, namun Orangnya Berjenggot, Penyabar, Penyayang, Bijaksana, Bijaksini, Bijaksitu dan Sakti Mandraguna. Rupanya SUHU mengagumi Tokoh-Tokoh Yang Semacam Itu, ya akhirnya kuambil saja istilah jenggot. Berubah menjadi perjenggotan karena ada alasan lain lagi yang tak kalah hebatnya menurut versi SUHU. Ini akan diulas di bagian ke 5 nanti.


  4. Berdarah ? Ini diambilpun hanyalah sekedar untuk seram-seraman guna menyaingi dan membasmi Pendekar Syair Berdarah yang sedang mengamuk. SUHU tidak bisa mengajar di Kelas dalam kondisi situasi seperti di Kuburan. Tepatnya, lebih suka dalam kondisi situasi Kelas Hangat, Ada Canda Ketawa, Ada Komunikasi Hidup, Namun Tetap Konsentrasi Pada Pelajaran. Meskipun seram-seraman, toh SUHU jelaskan juga kepada mereka bahwasanya maksud kata BERDARAH adalah selagi darah segar beleum membeku, pertanda masih ada kehidupan. Selagi ada kehidupan, kita sebagai manusia tak akan pernah berhenti berjuang, berjuang dan berjuang sampai titik darah penghabisan baik urusan dunia maupun terlebih-lebih urusan akhirat. Selagi darah masih segar, berarti jenggot akan tetap menempel kuat. Selagi jenggot masih menempel di dagu, kita harus selalu mengasah, mengasah dan mengasah SINKANG kita untuk berjuang di muka bumi ini dan sekaligus memeliharannya. Agar SINKANG tetap bisa terfokus ke sasaran dengan tepat, kita tetap berpegang pada Standar Aturan Agama dan Non Agama yang dikaji lewat PADEPOKAN/PERGURUAN/MADRASAH/SEKOLAH/SCHOOL.


  5. Namanya seperti pelajaran PSPB di masa tahun 84-an sampai 95-an, apa menjiplak ? Dikatakan menjiplak bisa, tidak menjiplak justeru lebih tepat. Di Era tahun 80-an ada pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) di Era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Prof. Dr. Nugroho Notosusanto lahir. Empat (4) tahun pasca SUHU mengajar ILMU EKONOMI di SMAN 1 Kraksaan, SUHU mendirikan PADEPOKAN dengan Nama ,"PADEPOKAN JENGGOT BERDARAH" dan julukan SUHU,"PENDEKAR JENGGOT BERDARAH". Anehnya, gara-gara ini mungkin, jenggot SUHU berwarna merah sampai sekarang dan disuruh warna hitam tetap tak mau. Setelah berjalan beberapa tahun, tiba-tiba ada kabar bahwasanya Pelajaran PSPB akan ditiadakan dalam Dunia Pendidikan di Indonesia. SUHU sangat kaget akan berita ini. Sangat amat disayangkan Pelajaran Kepahlawanan, Kesatria, Patriotisme, Nasionalisme ditiadakan. Mengapa dihapus ? Kan masih relevan dengan Kebutuhan ? Kalau tidak cocok, ya ganti saja cara mengajarkannya yang lebih bagus dan atraktif, tak perlu dihapus 100 % . Ini uneg-uneg SUHU, apalagi SUHU pernah mengajar PSPB 0,5 Tahun di SMA Negeri Filial Kraksaan di Condong, Gading, Kabupaten Probolinggo (sekarang SMAN 1 Gading). Yang lebih terpenting lagi JIWA SUHU SUDAH MENYATU DENGAN SEGALA HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN DUNIA PATRIOISME, NASIONALISME, KESATRIA, dan KEPAHLAWANAN. Mengingat Nilai Kandungan Pelajaran PSPB yang luar biasa, maka senyampang belum dihapus pelajarannya, SUHU harus mengabadikannya dalam PADEPOKAN JENGGOT BERDARAH. Karena kesulitan mencari kata yang pas untuk huruf P dan agar kata jenggot tetap bisa masuk, maka tak perlu berpikir panjang lagi, langsung sikat saja yakni Jenggot diganti dengan Perjenggotan. Sedangkan kata SINKANG diilhami Nilai Kandungan dalam Dunia Kesatria, Dunia Silat/Kung Fu, Patriotisme, Nasionalisme dan Heroisme, maka SUHU krepes dengan cukup satu kata saja yakni SINKAN GG (Tenaga Dalam). Sinkang di mata SUHU merupakan sebagian generator kehidupan. Akhirnya memproklamirkan kepada Pelajar SMAN 1 Kraksaan pada waktu itu bahwasanya PADEPOKAN JENGGOT BERDARAH secara resmi berganti nama menjadi PADEPOKAN SINKANG PERJENGGOTAN BERDARAH (PSPB). Mereka secara aklamasi langsung menyetujui setelah mendapatkan penjelasan alasan pergantian Nama Tersebut. Rupanya sesuatu yang tak serius jadi serius. Sampai sekarang PSPB dengan segala Akronimnya tetap eksis dan ini GAYA dan ICON SUHU UTAMA DALAM MENGAJAR di SMA Negeri 1 Kraksaan. Singkat kata singkat ceritera, Pelajaran PSPB boleh sirna dari Bumi Indonesia, namun PSPB-nya SUHU tidak boleh sirna selama hayat diakandung badan sesuai kehendak Allah SWT. Dalam kesehariannya, Gaya Komunikasi SUHU cukup banyak diwarnai GAYA PSPB. Yang jelas, PRO dan KONTRA di antara Bapak dan Ibu Guru SMAN 1 Kraksaan sampai sekarang tetap masih ada. Namun, setuju apa tidak, senang apa tidak atas GAYA PSPB ini, SUHU TAK PERDULI. Ini hasil KREASI SUHU, apalagi tak pernah mengajari segala hal yang jorok-jorok, menipu sesama, korupsi, manipulasi, ngrasani (mempergunjingkan aib) sesama, mencuri, mencopet, menggarong, merampok, dll. SUHU MAMPU MENGHARGAI KARYA ORANG LAIN, NAMUN RUPANYA SEBAGIAN REKAN SUHU TAK MAMPU MENGHARGAI KARYA SUHU.


  6. Mengapa dipanggil SUHU ? Apakah SUHU itu ? Panas apa dingin ? Panggilan SUHU, SUHU sendiri yang memintanya. SUHU (Sansekerta) = Guru (Indonesia) = Ustadz (Arab) = Ustadzah (Arab) = Teacher (English) = der Lehrer (Jerman) = der Lehrerin (Jerman). SUHU minta dipanggil SUHU karena hanya satu alasannya yaitu untuk mengenang dan mengabadikan Nilai-Nilai Perjuangan di Masa Lampau yakni Guru Padepokan Silat/Kung Fu dipanggil dengan SUHU. Dalam kehidupan sehari-hari ada yang memanggil SUHU, USTADZ, dan BAPAK GURU kepada SUHU, semuanya sah. SUHU di sini tidaklah sama dengan Suhu Udara, jadi ya tidak panas dan tidak dingin.

Pengisahannya Selesai, Semoga Bermanfaat (PS, PB) !

 





Tuban, Senin, 24 November 2008


SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21

Post a Comment

سرعة


Flag Counter